Sabtu, 14 Desember 2013

kisah imam mesjid di london



KISAH IMAM MESJID DI LONDON
Seorang imam masjid di London, setiap hari pergi pulang dari rumahnya ke masjid dengan mengendarai bus umum. Ongkos bus tersebut dibayar pakai kartu (card), atau langsung ke sopir karena bus tidak memiliki kondektur. Setelah bayar, baru kemudian cari tempat duduk kosong.
Sang imampun bayar ongkos pada sopir lalu menerima kembalian, sebab hari itu ia tidak punya uang pas… baru kemudian duduk di bangku belakang yg kosong.
Di tempat duduknya dia menghitung uang kembalian dari sopir yg ternyata lebih 20 sen. Sejenak iapun terpikir.. uang ini dikembalikan atau tidak yah..? Ah cuma 20 sen ini… ah dia (sopir) orang kafir ini… atau aku masukin saja ke kotak amal di masjid…??
Setelah sampai di tempat tujuan, ia pun hendak turun bus dengan berjalan melewati sopir bus tersebut. Dalam hatinya masih bergejolak atas uang 20 sen itu, antara dikembalikan atau tidak. Namun ketika sampai di dekat sopir, spontan iapun mengulurkan 20 sen sambil berkata: “Uang kembaliannya berlebih 20 sen”.
Tanpa disangka tanpa dinyana.. sopir itu mengacungkan jempol seraya berkata:
“Anda berhasil..!!!”
“Apa maksud anda..?” Tanya imam masjid.
“Bukankah anda imam masjid yang di sana tadi?” Tanya sopir.
“Betul” jawabnya
Lantas sopir itu berkata…
“Sebenarnya sejak beberapa hari ini saya ingin datang ke masjid anda untuk belajar dan memeluk Islam.. tapi timbul keinginan di hati saya untuk menguji anda sebagai imam masjid, apa benar Islam itu seperti yang saya dengar: jujur, amanah dan sebagainya. Saya sengaja memberikan kembalian berlebih dan anda berhasil. Saya akan masuk Islam”. Kata sopir tersebut..
Alangkah tercengangnya imam masjid tersebut, sambil beristighfar meyesali apa yg dipikirkannya tadi. Hampir saja ia kehilangan kepercayaan hanya dengan uang 20 sen itu. Astaghfirullah…
Semoga jadi pelajaran buat kita untuk sentiasa bersikap sebagai seorang muslim sejati di mana saja, kapan saja dan di hadapan siapa saja… ***
Dari milis Yasminmuslim, kiriman Sdr Epril.

hikayah -tengkorak berbicara-



TENGKORAK BERBICARA
Alkisah, ada seorang pengembara yang suka banyak bicara. Suatu hari, ia menempuh perjalanan yang mengharuskannya melewati sebuah hutan belantara yang jarang sekali diinjak manusia.

Ketika sampai di tengah-tengah hutan, tiba-tiba terdengar suara orang berbicara. Pengembara itu merasa takut, tetapi juga penasaran. "Suara siapakah itu, di tengah-tengah hutan yang sepi begini?" bisiknya dalam hati. Lalu, dengan hati-hati ia mencari asal suara tadi. Akhirnya ia menemukan jawabannya. Suara tadi berasal dari tengkorak manusia yang ada di bawah pohon besar. Alangkah terkejutnya ia.

Dengan rasa tidak percaya, ia memberanikan dirinya mendekat dan bertanya, "Hai tengkorak. Bagaimana kamu bisa sampai di tengah-tengah hutan belantara ini?"
Di luar dugaan, si tengkorak itu bisa mendengar dan menjawab pertanyaannya. "Hai pengembara! Yang membawa aku ke sini adalah mulut yang banyak bicara," jawab si tengkorak. Mengetahui tengkorak bisa mendengar dan berbicara, si pengembara pun jadi sangat terhibur dan terus mengobrol tentang segala hal yang menarik hatinya. Ia merasa menemukan pengalaman yang benar-benar aneh dan sangat menakjubkan.
Saat keluar dari hutan, si pengembara terus teringat dengan kejadian aneh yang dialaminya. Dengan penuh semangat, ia berceritatentang tengkorak yang bisa bicara kepada setiap orang yang dijumpainya. Tentu saja,tidak ada seorang pun yang mau percaya. Malah ada yang mencemooh ceritanya. "Dasar bodoh! Mana ada tengkorak yang bisa bicara!"
Namun, biarpun tidak ada yang mau percaya dengan ceritanya, pengembara itu tetap sajabercerita kepada banyak orang lainnya.

Akhirnya, cerita tengkorak yang bisa berbicara itu pun terdengar sampai ke istana. Singkat cerita, baginda raja tertarik dan kemudian mengundang pengembara itu ke istana. Kembali, si pengembara menceritakan pengalamannya dengan bangga.
"Baginda, hamba bertemu tengkorak yang bisa bicara. Mungkin baginda bisa menanyakan tentang masa depan kerajaan ini kepada tengkorak itu," bujuk si pengembara. Karena rasa ingin tahu, raja pun mengajak para pengawalnya dan meminta si pengembara menunjukkan jalan ke hutan di mana tengkorak itu berada.
Setibanya di sana,pengembara dengan begitu percaya diri langsung bertanya kepada si tengkorak. "Hai tengkorak, bagaimana kamu bisa sampai di hutan ini?"
Kali ini, tengkorak itu diam membisu. Raja dan para pengawal tampak tidak sabar menunggu. Ketika pengembara itu mengulang pertanyaannya beberapa kali dengan suara lebih keras, tengkorak itu tetap diam membisu. Yang terdengar hanya desau angin dan gaung suara si pengembara.
Melihat hal itu, para pengawal menatap raja dengan pandangan geli. Merasa telah diperdayai, sang raja menjadi murka. Ia memandang marah si pengembara. "Sebenarnya aku tidak percaya omonganmu. Apakah kamu mengira bahwa aku ini raja yang bodoh? Sebenarnya, aku datang ke sini untuk membongkar kebohonganmu. Kamu harus dihukum atas hal ini!"
Sang raja pun langsung memerintahkan hukuman mati untuk si pengembara. Setelah itu, jenazah si pengembara ditinggalkan di sana. Kepalanya diletakkan di samping tengkorak tadi.
Begitu raja dan para pengawalnya pergi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba si tengkorak bersuara. "Hai Pengembara! Bagaimana kamu bisa sampai di hutan ini?"
Dan kepala si pengembara pun menjawab, "Yang membawa aku ke sini adalah mulut yang banyak bicara."
Teman-teman yang luar biasa!
Sering kali pertengkaran, kesalahpahaman, dan permusuhan besar muncul gara-gara omongan yang tidak pada tempatnya. Mereka yang suka mengumbar omongan, sering jadi kurang waspada sehingga mudah menyinggung, merendahkan, atau melecehkan orang lain. Sekilas, masalahseperti ini tampak sepele, tetapi akibatnya bisa fatal.
Alangkah baik,apabila setiap saat kita bisa mengendalikan diri, tahu kapan dan mengapa harus berbicara. Bahkan terkadang bisa diam adalah sikap yang paling bijak, seperti pepatah, "Silent is golden. Diam adalah emas."

cerpen -dandelion- *repost*I



“DANDELION”
Tak  banyak  orang tau akan keberadaan bunga itu. Dandelion dapat hidup dimana saja, meskipun di semak belukar. Dandelion itu terlihat rapuh, namun sebenarnya sangat kuat dan indah. Begitu juga dengan seorang gadis cantik yang ku kenal. Dia adalah gadis yang sangat kuat. Meskipun fisiknya lemah. Dia tak berhenti mengejar cita-citanya sampai cita-cita itu kandas oleh takdir kehidupannya.

Bandung, 28 April 2007, 07.53 wib
Aku terduduk lemas disalah satu kursi ‘waiting room’ yang ada di Rumah  Sakit Harapan. Rambut ku acak-acakan, wajahku pucat, keringat tak henti-henti mengalir diseluruh tubuh ku. “arrgh.. ini semua salahku” teriakku dengan suara parau sambil mengacak-ngacak rambutku yang sudah acak-acakan. “bodohnya aku ! lelaki seperti apa aku ini!!” ucapku lagi yang kali ini sambil memukuli diri ku sendiri. “sudahlah Vin, tak ada gunanya kamu menyakiti dirimu sendiri. Tak  ada yang dapat kita perbuat sekarang ini selain berdoa untuk keselamatannya.” Ucap Bayu menenangkanku. “tapi Bay, ini salahku. Aku tak dapat menjaganya.” Ucapku yang selalu menyalahkan diriku. “KEVIN. Dengar kataku ini semua kehendak Tuhan tak ada yang menginginkan Almira  seperti ini. Ini bukan salah kamu.” Maki Bayu kepadaku. “tidak Bay, aku yang menyebabkan Almira seperti ini. Aku yang bersalah.” PLAK. Satu tamparan mendarat di pipi kananku. “maaf Vin, aku hilang kendali.” Sesal Bayu. “tampar aku lagi Bay, aku memang pantas mendapatkannya. Aku yang membuat Almira, adikmu tertabrak  sampai sekarang ia harus mati-matian menantang maut. Seharusnya aku yang disitu. Bukan Almira.” Desahku dengan suara yang samar-samar.
Lelaki yang biasanya tegar itu tampak benar-benar menyesal, matanya yang bulat dengan warna kecoklatan tampak sembab karena airmatanya tak henti-henti mengalir sejak sebuah peristiwa yang disaksikan oleh kedua matanya membuat Almira, wanita yang sejak 4 tahun terakhir dipacarinya dilarikan ke UGD dan sekarang tengah berjuang melawan malaikat pencabut nyawa.
Suasana sempat hening seketika sampai tak lama kemudian keluarlah dokter dari ruangan yang sejak tadi kami tunggu. “dok, bagaimana keadaan Almira?” Tanyaku sangat khawatir melihat raut wajah dokter tersebut. “maaf mas, semua sudah kami lakukan. Tapi Tuhan lebih sayang kepadanya.” Jawab dokter itu sambil pergi meninggalkan ku dan Bayu diikuti dengan para susternya. “TIDDAAKKKKK….. Tuhan tidak adil ! kenapa? Kenapa tak kau biarkan dia hidup mendampingiku Tuhan?” teriak ku menyalahkan takdir  Tuhan. “sudah Vin, ini sudah jalan hidup Almira. Iklaskan dia.” Ucap Bayu sambil memegang pundak ku lalu masuk kedalam ruangan itu untuk melihat jenazah sang adik. “selamat jalan Mir.” Ucap Bayu sambil mengecup kening Almira.
 “kamu tak ingin melihat Almira untuk yang terakhir kalinya Vin?” tanya Bayu. “aku tak sanggup Bay.” Jawabku lalu berlari menyusuri lorong-lorong dengan tembok berwarna putih itu. Aku berlari dan terus berlari hingga aku sampai ke suatu taman yang hanya aku dan Almira saja yang mengetahuinya. Ku ambil bola basket yang terletak dibawah salah satu pohon besar disana. Ku drible berulang-ulang bola basket tersebut, namun tak satupun shuttingku yang dapat masuk ke ring tersebut. “arghh.. Tuhan benar-benar tidak adil kepadaku.. kenapa Almira harus pergi meninggalkanku? Kenapa?” tanya ku sekencang-kencangnya lalu  jatuh pingsan tak sadarkan diri dan tubuhku terhempas ke tanah.
Berjam-jam aku tergeletak disana sampai ponselku berdering membangunkanku dari pingsanku. Ku lihat layar ponselku dan kudapati sebuah pesan dari Bayu ‘cepat pulang. Almira akan segera dikebumikan’. Aku pun segera bangun dan berlari menuju rumah Almira. Sesampainya di rumah Almira, tak seorangpun ku dapati disana. “pemakaman” fikirku, lalu segera berlari dan berlari menuju ‘TPU’ dekat rumah Almira. Dan yups, tapat. Almira sedang dimakamkan. “kemana saja kamu Vin?” tanya Bayu kepada ku namun tak ada jawaban terlontar dari bibirku. Selama acara pemakaman Almira berlangsung, aku sama sekali tak mengeluarkan kata sedikitpun. Namun air mataku selalu mengalir dari kedua pelupuk mataku. Sampai akhirnya pemakaman selesai dan semua orang beranjak dari situ. Tapi tidak denganku, aku terus disitu, duduk terdiam dan membisu. Mulutku mengaga dan berucap “Almria, aku ingin ikut.” Satu kalimat yang sejak tadi ingin sekali ku keluarkan. Aku benar-benar lemah dan tak ada semangat untuk menjalani kehidupan lagi. Bagiku tak ada gunanya aku hidup jika wanita yang sangat aku cintai pergi meniggalkanku. “Almira, aku ingin ikut.” Kalimat itu lagi-lagi ku lontarkan. Tapi kali ini dengan suara yang benar-benar parau serta diiringi dengan tangisan oleh alam semesta yang seakan merasakan apa yang aku rasakan saat itu. “Almira, kamu lihat sayang, langitpun menangis tak mengikhlaskan kamu pergi.” Ucapku sambil merebahkan kepala ku diatas pusara Almira dengan tetesan air hujan yang terus mengguyurku. “tunggu aku di surga sayang.”

Bandung, 10 September 2007, 10.38 wib
Hari ini, hari menjelang 5 bulan kepergian Almira, dan tepat di hari ini aku pergi meniggalkan kota Bandung untuk mencari peruntungan di ibu kota. Selain itu aku ingin mencoba melupakan sosok Almira walaupun tak sepenuhnya dapat ku lakukan. Bagiku Bandung mempunyai sejuta kenangan saat-saat aku dan Almira melewati hari-hari bersama. Pedih memang ketika ku putuskan untuk meninggalkan kota yang mengukir banyak sejarah hidupku ini. Tapi ini harus aku lakukan, bukan untuk seutuhnya melupakan Almira, tapi untuk mencoba tak selalu terpuruk dengan kenyataan yang tak sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Semua pakaian sudah tersusun rapi didalam sebuah koper yang dapat dikatakan berukuran paling besar berwarna hitam kecoklat-coklatan. Kemudian pandangan ku tertuju pada sebuah bingkai foto yang terpampang diatas meja belajarku. Bingkai foto yang berisi foto Almira, foto yang sejak dulu menjadi penyemangat hidupku –bahkan hingga saat ini- Ku raih bingkai foto tersebut dan kumasukkan ke dalam koper dan segera ku tarik reksletingnya. Bergegas ku tarik koper tersebut menuju ke sebuah taksi yang sudah menungguku sejak tadi. “selamat tinngal Bandung, selamat tinggal Almira. Kenang aku dihatimu, bawa pergi cintaku, simpan semua kenagan kita dihatimu.” Ucapku sambil menutup kaca mobil disertai dengan jatuhnya butiran-butiran cristal cair di pelupuk mataku.

Jakarta, 16 April 2008, 19.37 wib 
“pada malam hari ini kita akan dihibur oleh penyanyi yang baru bergabung di ‘cafe balerina’. Baiklah kita sambut pria tampan berkulit putih yang bernama ‘Kevin Marvelo’ semoga terhibur. Selamat menyaksikan.” Ucap seorang MC cafe balerina yang mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna putih, celana jeans hitam pekat dengan rambut jabrik-jabrik.
Takkan pernah habis air mataku
Bila ku ingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri

Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu berputar
Kan kutunggu dirimu …


Reff:
Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana
Tenanglah diriku dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi …

Saat lagu sedang berlangsung seketika ruangan ber-AC itu hening, yang terdengar hanya dentingan gitar dan alunan suara indah dari mulut Kevin. Saat senar gitar selesai ku petik, seketika itu juga suasana ruangan berubah menjadi bergemuruh dengan sorak-sorai tepuk tangan para pengunjung cafe. “selamat Kevin, sepertinya kamu sangat disukai oleh pengunjung cafe ini. Suara mu bagus, permainan gitarmu sudah seperti gitarist handal. Kamu pun sangat menjiwai lagu tersebut. Lagu itu sangat merasuk dengan jiwamu.” Ucap salah seorang pengunjung cafe berjas itu kepadaku. “terima kasih pak, lagu itu adalah sebuah lagu yang ku ciptakan untuk seorang wanita yang sangat sangat aku cintai.” Jelasku singkat namun pasti. “pasti wanita itu adalah wanita yang sangat beruntung. Kalau ada waktu, mapir ke studio ku ya.” Ucapnya sambil memberikanku sebuah kartu nama.

Jakarta, 28 April 2008
Hari ini tepat setahun kematian Almira, tapi bayang wajahnya masih jelas terekam diingatanku. Memang ku akui, sangat sulit menghapus bayang-bayang wajahnya meski sering kali ku coba untuk mencari penganti dirinya, tapi hatiku selalu terisi oleh namanya. Sampai ku putuskan hari ini aku akan mengunjungi pusara Almira yang 7 bulan terakhir tak sempat ku kunjungi. Sudah lama memang aku tak mengunjunginya sejak aku pindah ke Jakarta. Kebetulan hari ini bertepatan dengan MnG ku yang diadakan di kota kelahiranku itu.
Setelah sampai di Bandung, ku putuskan untuk terlebih dahulu mengunjungi pusara Almira. Kubawakan bunga tulip kesukaannya. Dan lagi-lagi airmataku selalu menetes saat mengingatnya. Aku selalu tampak seperti laki-laki yang paling lemah di dunia. Aku yakin Almira tak akan suka jika melihat aku dalam keadaaan seperti sekarang ini. “tak terasa ya Mir, sudah setahun kita tak bersama. Hidupku hampa tanpa kamu. Aku jadi tak bersemangat lagi menjalani kehidupan ini. Tapi aku yakin, kamu sudah tanang di surga. Jadi aku selalu berusaha untuk mengikhlaskanmu meskipun itu sangat sulit Mir, sulit sekali ku lakukan.” Adu ku pada setumpuk tanah berbatu nisan yang bertulisan nama seorang wanita yang dari dulu kepergiannya hingga sekarang sangat sulit aku lupakan. Mungkin karena aku terlalu sangat sangat mencintainya.
Ku lirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku ’15.45’ batinku. “aku harus segera pergi Mir. Tunggu aku selalu. Aku mencintaimu kemarin, hari ini dan untuk selamanya.” Pamitku lalu bergegas menuju mobilku yang terparkir didepan pemakaman dan aku pun segera meluncur ke acara MnG yang diadakan disuatu pusat perbelanjaan yang ada di tengah-tengah kota mode itu yang sering orang sebut ‘Paris Van Java’. Saat mobil ku sampai disana, banyak fans-fans yang berlarian kearah mobilku. Segera para penjaga keamanan disana melindungiku dari keanarkisan para fans yang terlalu fanatik kepadaku. Ku lemparkan sebuah senyuman ke seluruh pasang mata yang ada disana dan aku segera pergi menuju tempat acaraku dibuat. “KEVIIIIIIINNNNN” terdengar sorak-sorak orang meneriakkan namaku diiringi dengan tepuk tangan yang sangat meriah. Lalu aku mulai beraksi memetik senar-senar gitar. Suasanapun bertambah meriah. Saat ku nyanyikan satu baris pertama, suara yang dari tadi terdengar sangat riuh kini mulai menghilang digantikan dengan suasana yang hening. Terlihat hampir seluruh peserta MnG mengeluarkan airmata. Entah apa yang membuat mereka menangis, akupun tak mengetahuinya. Kemudian ku pandangi seluruh orang yang hadir disana satu persatu hingga mataku tertuju pada seorang gadis berambut sebahu berbando merah muda duduk diatas kursi roda sambil memegang posterku yang berukuran besar. Entah kenapa aku teringat Almira saat melihat mata gadis itu berbinar-binar. Perasaanku jadi campur aduk saat itu. Antara tak percaya dan bahagia.
Setelah selesai lagu ku nyanyikan, aku berbalik kebelakang panggung. Dan kudapati gadis itu sedang menunggu ku dengan wajah sumringah. Spontan ku sebut nama ‘Almira’ ketika berhadapan dengannya. “siapa Almira kak?” tanyanya. “eee... Almira itu wanita penting di hidupku.” Jawabku pasti. “kamu mirip sekali dengannya.” Lanjutku sambil menatap dalam mata gadis itu. “jika dia masih hidup, dia pasti seumuran denganmu.” Timpalku lagi. “jadi Almira sudah.....” kata-katanya terputus saat melihat raut wajahku tiba-tiba berubah. Lalu aku pun mengangguk kecil membenarkan kata-kata gadis itu yang tak sampai habis dilontarkannya. “maaf kak, Deli tak bermaksud......” lagi-lagi kata-katanya terputus. “tidak apa-apa...” sahutku sambil menaikkan alis seakan mengatakan ‘siapa namamu’. “namaku Deli kak, Dandelion tepatnya.” Ucapnya sambil tersenyum. ‘astaga, senyumnya sama persis dengan senyum Almira. Apa ini salah satu takdirmu Tuhan’ seru ku dalam hati.
Tenang, sebuah perasaan yang aku rasakan saat berada disampingnya. Sebuah perasaan yang sudah sejak setahun belakangan ini tak pernah ku rasakan lagi. “itu ibu mu Deli?” tanya ku pada Dandelion sambil melirik ke arah wanita paruh baya yang duduk tersenyum di pojokan ruangan. Dan dibalas dengan sebuah anggukan dari Dandelion. “eh ngomong-ngomong namamu aneh Del.” Ujarku sambil tertawa kecil. “akh kakak, jangan diketawain. Nama ini diberikan oleh Alm. Ayah Deli. Deli pun tak tau pasti apa artinya. Yang Deli tau, kata bunda, Dandelion itu indah dan sangat kuat.” Jelasnya dengan bangga akan namanya yang siapa pun mendengarnya pasti akan mengatakan ‘aneh’.

Jakarta, 11 Juni 2008
Ku dapati kabar bahwa Dandelion sedang di rawat disebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Saat ku dengar kabar itu aku segera pergi kesana, entah kenapa perasaanku menjadi sangat aneh. Aku seperti merasakan sama seperti  apa yang aku rasakan saat Almira sedang melawan maut dahulu. Jantungku terasa berdenyut semakin kencang memompa aliran darah di tubuhku. Kakiku semakin cepat ku langkahkan menyusuri lorong putih hingga akhkirnya aku tiba di sebuah ruangan ‘VIP’ yang bertulisan ‘ruang cemara’ diatas ruangan yang serba putih itu disertai dengan bau obat-obatan. Aku tak tau kenapa Dandelion sampai harus dirawat di ruangan ini. Saat ku masuki ruangan itu, aku melihat sosok Dandelion sedang tertidur pulas dengan wajah yang agak pucat serta rambut yang menipis. “Dandelion” panggilku pada gadis yang terlelap itu. Berulang-ulang ku sebut namanya dan pada saat panggilan kelima matanya perlahan-lahan membuka. “Kak Kevin” ucapnya dengan sebuah senyuman yang biasa tercipta dari bibirnya. “kamu kenapa Deli?” tanyaku sedikit khawatir. “Deli divonis kena leokimia kak, sejak setahun yang lalu dan sekarang sudah mencapai stadium akhir. Dan kata dokter Deli Cuma bisa bertahan kurang dari sebulan kak.” Jelasnya tanpa ragu dan terlihat wajah pasrah diraut mukanya. Bangga aku padanya. Jika aku berada diposisinya belum tentu aku dapat sekuat dan setegar dia. Perasaan kagumku bertambah padanya. Atau bahkan perasaan suka? Entahlah. Aku pun tak dapat membedakan dua buah perasaan itu. “eh kak, nanti tanggal 18 datang kan?” tanyanya padaku. “kemana Del? Konser di Balai Sarbini? Datang dong. Kakak kan salah satu pengisi acaranya.” Jawabku dengan tampang tanpa dosa. “bukan kak, kakak lupa ya tanggal 18 kan Deli ulang tahun yang ke 18.” Ucapnya sambil mengelembungkan kedua pipinya yang berhasil membuatku tertawa geli melihatnya. “ya ampun. Kakak lupa Del, maaf ya cantik. Kakak pasti datang kok.” Janji ku yang berhasil membuat senyuman tercipta dari bibir Dandelion.

18 Juni 2008
Aku bimbang, aku harus ke rumah sakit atau ke acara yang sudah ku tanda tangani kontraknya. Terbersit sebuah kalimat dibenakku ‘Dandelion kan lagi saki. Dia  tidak akan kemana-mana’ . lalu ku putuskan untuk pergi ke acara itu, karena jika tidak aku akan bermasalah dengan hukum. Seperti didalam ilmu ekonomi ada ‘biaya peluang’ yaitu mengorbankan salah satu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Walaupun aku tau kalau aku sudah berjanji pada Dandelion. Tanpa kusadari ponselku mati pada hari itu jadi aku tak mengetahui apakah ada yang menghubungiku. Seharian aku berada di acara itu bahkan aku pun tak teringat lagi akan Dandelion yang pasti sedang menunggu ku.

19 Juni 2008
Aku berlari melintasi lorong putih itu lagi. Jantungku berpacu memompa kaki untuk meleset lebih cepat. Sampai diujung lorong aku mendengar isakan tangis orang ramai berkumpul di depan ruangan yang hampir selama sebulan ini setiap hari ku masuki. Ada perasaan yang aneh menggumpal di dada ku memaksa ingin keluar. Perlahan aku memasuki kerumunan itu sambil menguatkan hati dan berharap kalau apa yang aku dengar di telpon tadi pagi hanya lelucon. Kekuatan ku runtuh ketika melihat tubuh tergolek lemas, pucat pasi, matanya tertutup, sebuah selimut putih menyelimutinya. Aku mendekat dan melihat lebih jelas. Kini bendungan yang ku tahan sejak tadi luluh, cairan bening mulai mengalir membuka luka baru sebelum yang lama hilang. Aku menyentuh tangannya dibalik selimut. Dingin, dingin, dan kaku seperti es. Dia tak pernah seperti ini sebelumnya, dia selalu hangat dan ceria meskipun duduk di kursi roda. Ku kuasai emosi yang bergejolak tidak menentu dan mulai berkata-kata “Dandelion” ucapku lirih. “Dandelion, ini kak Kevin. Maaf kakak tidak datang kemarin. Kakak lagi... bingung. Dandelion, tolong jangan marah. Tolong bangun dan bilang kamu tidak marah sama kakak.” Ucapku berulang kali seperti orang ‘bodoh’ karena siapapun tahu walau kau berbicara seribu kata, dia tak akan menjawab satupun perkataanmu. Aku mulai menunduk dan ku rasakan seseorang menyentuh bahuku. Aku menoleh dan PLAAKK. Sebuah tamparan mendarat di pipi ku. “kenapa kamu tidak datang kemarin Vin? Kenapa?” tanya ibu Dandelion kepadaku dengan raut muka penuh dengan emosi. “maaf tante, Kevin lagi... lagi..” jawabku terisak. “lagi apa Vin? Kamu tidak tau kan kalau semalam Dandelion menunggumu sampai jam 3 pagi, sampai-sampai dia drop. Tapi kamu tidak juga datang menemuinya.” Jelas wanita paruh baya itu. “kamu tau Vin? Semalam itu adalah hari yang ditunggu-tubggu oleh Dandelion. Dia ingin mengungkapkan perasaannya kepadamu. Tapi apa? Kamu malah tak datang?” lanjutnya. “jadi Deli...?” tanyaku terbata-bata. “tapi semua sekarang sudah terlambat Vin.”


***
Kini aku terduduk diatas tanah basah menyesali semua keputusan yang ku ambil kemarin. Dan untuk kedua kalinya sebuah penyesalan yang ‘pasti’ akan ku sesali seumur hidup menimpa kehidupan ku. Kalimat itu selalu membayang-bayang dibenakku, kalimat paling bodoh yang pernah ada difikiranku. ‘Dandelion kan lagi sakit. Dia pasti tidak akan kemana-mana.’ Ku letakkan serangkaian bunga Dandelion yang sudah mulai melayu diatas tumpukan tanah yang ada dihadapanku. Ku usap batu nisan bertulisan namanya seakan-akan aku sedang mengusap kepala Dandelion sambil berkata, “Happy birthday Dandelion. Aku sayang kamu. Hiduplah dengan abadi di tempat yang berbeda. Dan tetaplah jadi Dandelion ku yang kuat dan tegar.”



End




stusi kasus -perkembangan intelegensia pada kognitif anak-



STUDI KASUS
Perkembangan Inteligensia Pada Kognitif Anak
Tugas Mandiri Diajukan Untuk Memenuhi
Sebagian Tugas Matakuliah Psikologi Belajar





Disusun Oleh :
Nama                          : Rita Susanti
NIMKO                        : 1209.12.06641
Program                      : Strata Satu (S-1)
Program Studi             : PAI
Semester / Lokal         : II (dua) / C
Dosen Pengampu       : Hermanto, S. Psi


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AULIAURRASYIDIN
TEMBILAHAN

2013

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan.
Berbicara mengenai intelegensi biasanya memang dikaitkan dengan kemampuan untuk pemecahan masalah, kemampuan untuk belajar, ataupun kemampuan untuk berpikir abstrak. Perkataan intelegensi dari kata latin “intelligere” yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to relate, to bind together). Istilah intelegensi kadang-kadang atau justru sering memberikan pengertian yang salah, yang memandang intelegensi sebagai kemampuan yang mengandung kemampuan tunggal, padahal menurut para ahli intelegensi mengandung bermacam-macam kemampuan. Namun demikian pengertian intelegensi itu sendiri memberikan berbagai macam arti bagi para ahli.
Sulit untuk membuat suatu defenisi yang memuaskan mengenai intelegensi.

B.   Tujuan dan Manfaat
Tujuan saya membuat karya tulis ini agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum khususnya mahasiswa dalam proses perkuliahan.


BAB II

IDENTITAS RESPONDEN (anak yang diteliti)


A.   DATA RESPONDEN
a.    Nama                                     : Vera Mutiara Ramadani
b.    Tempat Lahir            : Tembilahan
c.    Tanggal Lahir           : 10 November 2003
d.    Kelas                          : III (Tiga)
e.    Tempat Sekolah       : SDN 008 Tembilahan Hulu
f.     Alamat Rumah         : Jl. Sederhana Gg. Kacang
g.    Hobby                        : Membaca

B.   DATA ORANGTUA RESPONDEN
Ayah :
a.    Nama                                     : Ilmi
b.    Tempat Lahir            : Lintau
c.    Tanggal Lahir           : 15 Juli 1959
d.    Pendidikan Terakhir : SLTA
e.    Alamat Rumah         : Jl. Sederhana Gg. Kacang
Ibu :
a.      Nama                                     : Tuti Herawati
b.      Tempat Lahir            : Tembilahan
c.      Tanggal Lahir           : 14 Juli 1977
d.      Pendidikan Terakhir: SD
e.      Alamat  Rumah        : Jl. Sederhana Gg. Kacang

C.   OBSERVASI YANG DILAKUKAN
1.    Observasi Pertama
      Hari                 : Selasa
Tanggal         : 19 Maret 2013
Pukul                         : 17.15 wib
Tempat           : Rumah Responden
2.    Observasi Kedua
Hari                 : Jum’at
Tanggal         : 22 Maret 2013
Pukul                         : 08.47 wib
Tempat           : Rumah Responden
3.    Observasi Ketiga
Hari                 : Rabu
Tanggal         : 27 Maret 2013
Pukul                         : 16.27 wib
Tempat           : Rumah Responden























BAB III 
PERMASALAHAN YANG DIHADAPI

  1. Keadaan Anak

1.    Fisik Anak
Keadaan fisik sangat mempengaruhi proses belajar. Menurut studi kasus yang saya lakukan kondisi fisik responden tidak mengalami kecacatan apapun, hanya saja responden mengalami strabismus. Selain itu, responden juga gmpang mengalami sakit apabila kelelahan dalam beraktivitas.
2.    Mental Anak
Selain keadaan fisik, keadaan mental juga sangat berpengaruh terhadap proses belajar. Dari studi kasus yang saya lakukan, responden tidak ada mengalami kelainan mental. Responden sama seperti anak-anak normal pada umumnya.
3.    Kelemahan Anak
Anak yang saya teliti mempunyai kelemahan dalam mata pelajaran bahasa inggris, mungkin karena mata pelajaran itu merupakan mata pelajaran dengan bahsa asing sehingga sulit untuk dipahami.
4.    Kelebihan Anak
Dari hasil studi kasus yang saya lakukan, anak ini inteligensinya sangat tinggi, terbukti dari hasil raportnya yang selalu mendapat peringkat 3 besar di kelas. Selain itu, anak yang saya teliti ini juga rajin dalam hal membantu orang tua. Serta ia rajin untuk mengaji sehabis pulang sekolah.

  1. Permasalahan Anak

    1. Terhadap diri sendiri
Inteligensi anak sangat berpengaruh pada hasil belajarnya, dari hasil studi kasus yang saya lakukan anak ini mempunyai inteligensi yang sangat tinggi, permaslahan yang biasanya ia hadapi yaitu lebih cenderung ke egonya yang sangat tinggi.
    1. Orangtua
Orangtua sangat memengaruhi kegiatan belajar. Sifat orangtua dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Orangtua yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik. Dari studi kasus yang saya lakukan orangtua responden sangat memanjakan anaknya, tetapi untungnya hal itu berdampak positif bagi si anak, terbukti dengan hasil raportnya yang selalu menapat peringkat 3 besar di sekolah tempat ia menuntut ilmu. Selain itu, apabila si anak mendapat peringkat maka orangtuanya akan memberikan hadiah sebagai apresiasi atas keberhasilan anak tersebut, sehingga responden akan semangat dalam belajar.

    1. Lingkungan
Kondisi lingkungan masya­rakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengang­guran dan anak telantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memer­lukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilikinya. Untung saja responden yang saya teliti hidup di lingkungan yang pergaulannya dapat dijadikan sebagai wadah belajar bersama teman-teman sebayanya. Pernah saya melihat, banyak anak-anak di daerah tempat tinggalnya tengah bermain sambil belajar mengenai pelajaran yang diajarkan di sekolah. Sehingga responden tidak hanya belajar di sekolah tapi  juga dapat belajar di lingkungan masyarakat tempat ia tinggal.

    1. Sekolah
.  Lingkungan sekolah, seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan yang harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di sekolah. maka para pendidik, orangtua, dan guru perlu memerhatikan dan memahami bakat yang dimili­ki oleh anaknya atau peserta didiknya, antara lain dengan mendukung dan ikut mengembangkannya. Berdasarkan studi kasus yang saya lakukan, responden ingin pindah sekolah gara-gara dijahili oleh teman sekelasnya sampai sepeda responden yang baru beli rusak, serta tak jarang responden diusili oleh teman sekelasnya itu.

BAB IV
 DASAR TEORITIS

A.   Teori kognitif

1.            Pengertian Teori Kognitif

Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa. Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.

2.            Karakteristik Teori Kognitif

Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati.

3.            Tokoh Teori Belajar Kognitif

·         Jean Piaget, teorinya disebut “Cognitive Developmental”

Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dan fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektuan adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Dengan kata lain, daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.

B.    Intelegensi
1.    Definisi intelegensi
Berbicara mengenai intelegensi biasanya memang dikaitkan dengan kemampuan untuk pemecahan masalah, kemampuan untuk belajar, ataupun kemampuan untuk berpikir abstrak. Perkataan intelegensi dari kata latin “intelligere” yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to relate, to bind together). Istilah intelegensi kadang-kadang atau justru sering memberikan pengertian yang salah, yang memandang intelegensi sebagai kemampuan yang mengandung kemampuan tunggal, padahal menurut para ahli intelegensi mengandung bermacam-macam kemampuan. Namun demikian pengertian intelegensi itu sendiri memberikan berbagai macam arti bagi para ahli.
Sulit untuk membuat suatu defenisi yang memuaskan mengenai intelegensi.
 Kita akan melihat beberapa batasan yang diberikan oleh para ahli lalu kita berusaha merangkum dan menguraikan ciri-cirinya. Menurut panitia istilah Padagogik (1953) yang mengangkat pendapat Stern yang dimaksud intelegensi adalah “daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya”.
Menurut V. Hees, intelegensi ialah “sifat kecerdasan jiwa”. K. Buhler, mengatakan bahwa intelegensi adalah “Perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian”. David Wechsler, seorang ahli di bidang ini memberikan definisi mengenai intelegensi mula-mula sebagai “kapasitas untuk mengerti lingkungan dan kemampuan akal-budi untuk mengatasi tantangan-tantangannya”. Pada kesempatan lain ia mengatakan bahwa intelegensi adalah “kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungan-lingkungannya secara efektif”.
Dari definisi-definisi yang disajikan di atas, kita menarik beberapa kesimpulan yang akan menjelaskan ciri-ciri intelegensi:
o   Intelegensi merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
o   Intelegensi tercermin dari tindakan yang terarah (lihat no. 1) pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul dari padanya.
Menurut arah dan hasilnya, intelegensi ada dua macam, yaitu:
*      Intelegensi praktis. Ialah intelegensi untuk dapat mengatasi suatu situasi yang sulit dalam sesuatu kerja, yang berlangsung secara cepat dan tepat.
*      Intelegensi teoritis. Ialah intelegensi untuk dapat mendapatkan suatu fikiran penyelesaian soal atau masalah dengan cepat dan tepat.




2.    Teori Intelegensi
Teori-teori tentang intelegensi memang cukup bervariasi, di bawah ini akan dipaparkan beberapa teori dari para ahli. Menurut Morgan, dkk. (1984) ada dua pendekatan yang pokok dalam memberikan definisi mengenai intelegensi itu, yaitu (1) pendekatan yang melihat faktor-faktor yang membentuk intelegensi itu, yang sering disebut sebagai pendekatan faktor atau teori faktor, dan (2) pendekatan yang melihat sifat proses intelektual itu sendiri, yang sering dipandang sebagai teori orientasi-proses (process-oriented theories).
a.    Teori-teori Faktor
Di depan telah dipaparkan mengenai bermacam-macam pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan intelegensi itu dari beberapa orang ahli. Dari pendapat-pendapat tersebut di atas dapatlah dikemukakan bahwa dalam intelegensi itu didapati adanya faktor-faktor tertentu yang membentuk intelegensi, inilah makna dari teori faktor. Mengenai faktor-faktor apa yang terdapat dalam intelegensi, diantara para ahli belum terdapat pendapat yang bulat.
Seperti dikemukakan oleh Thorndike dengan teori multi faktornya, yaitu bahwa intelegensi tersusun dari beberapa faktor, dan faktor-faktor itu terdiri dari elemen-elemen, dan tiap-tiap elemen terdiri dari atom-atom, dan tiap-tiap atom merupakan hubungan stimulus-respons. Jadi suatu aktivitas yang menyangkut intelegensi adalah merupakan kumpulan dari atom-atom aktivitas yang berkombinasi satu dengan yang lainnya.
Menurut Spearman intelegensi itu mengandung dua macam faktor, yaitu general ability atau general factor (faktor G), dan special ability atau special factor (faktor S). Karena itu teori Spearman dikenal sebagai teori dwi-faktor atau two-factor theory. Menurut Spearman general ability atau general factor terdapat pada semua individu tetapi berbeda satu dengan yang lain. General factor selalu didapati dalam setiap performance, sedangkan special ability adalah merupakan faktor yang bersifat khusus, yaitu mengenai bidang-bidang tertentu. Dengan demikian maka jumlah faktor S itu banyak, misalnya ada S1, S2, S3 dan seterusnya. Jadi kalau pada seseorang faktor S dalam bidang tertentu dominan, maka orang itu akan menonjol dalam bidang tersebut. Dapat dikemukakan bahwa menurut Spearman tiap-tiap performance selalu ada faktor G dan faktor S, atau dapat dirumuskan: P =G + S. Menurut Morgan, dkk. (1984) teori Spearman ini juga disebut teori faktor G (G-faktor theory).
Burt mempunyai pandangan yang berbeda, namun dekat dengan pandangan Sperman. Menurut Burt di samping general ability dan special ability masih terdapat faktor yang lain lagi, yaitu common ability atau common factor atau juga disebut group factor. Common factor adalah merupakan faktor sesuatu kelompok kemampuan tertentu, misalnya common factor dalam hal bahasa, common factor dalam hal matematika. Dengan demikian menurut pandangan Burt dalam intelegensi ada tiga macam faktor, yaitu (1) faktor G; (2) faktor S; dan (3) faktor C, dan faktor-faktor ini akan tampak dalam performance individu. Jadi performance individu dapat digambarkan sebagai berikut. P= G + S + Cx Cx = misalnya common factor berhitung P= G + S + Cy Cy = misalnya common factor bahasa
Dengan demikian maka akan didapati bermacam-macam special factor dan juga bermacam-macam common factor sesuai dengan kelompok-kelompok persoalan yang dihadapi, di samping faktor G. Cattel (Morgan, dkk.,1984) berpendapat bahwa ada dua komponen dalam aktivitas intelektual, yaitu (1) fluid intelligence dan (2) crystallized intelligence. Fluid intelligence adalah berkaitan dengan kemampuan yang mencerminkan potensi intelegensi yang independent dari sisialisasi dan pendidikan, sedangkan crystallized intelligence lebih mencerminkan aspek budaya termasuk pendidikan formal, yang dipadu dengan pengetahuan dan keterampilan(skill).



b.    Teori Orientasi Proses (Process-Oriented Theories)
Teori ini mendasarkan atas orientasi bagaimana proses intelektual dalam pemecahan masalah. Para ahli lebih cenderung bicara mengenai proses kognitif (cognitive processes) daripada intelegensi, tetapi dengan maksud tentang hal yang sama (Morgan, dkk., 1984). Teori proses informasi mengenai intelegensi (information-processing theories) mengemukakan bahwa intelegensi akan diukur dari fungsi-fungsi seperti proses sensorik, koding, ingatan, dan kemampuan mental yang lain termasuk belajar dan menimbulkan kembali (remembering).

3.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intelegensi
Untuk membahas faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi intelegensi, kita selalu ditarik ke dalam kontroversi Nature vs Nurture atau Bawaan vs Lingkungan. Kita tidak akan membahas kontroversi ini karena telah banyak hasil penelitian yang menyatakan bahwa kedua faktor tersebut memberikan sumbangan yang sangat berarti pada perkembangan inteligensi.
a.    Pengaruh Faktor Bawaan
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari suatu keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkorelasi tinggi (± 0,50). Di antara kembar korelasi sangat tinggi (± 0,90), sedangkan di antara individu-individu yang tidak bersanak saudara korelasinya rendah sekali (± 0,20). Bukti lain dari adanya pengaruh bawaan adalah hasil-hasil penelitian terhadap anak-anak yang diadopsi. IQ mereka ternyata masih biokorelasi tinggi dengan ayah/ibu yang sesungguhnya (bergerak antara + 0,40 sampai + 0,50). Sedang korelasi dengan orangtua angkatnya sangat rendah (+ 0,10 sampai + 0,20). Selanjutnya, studi terhadap kembar yang diasuh secara terpisah juga menunjukkan bahwa IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa walau lingkungan berpengaruh terhadap taraf kecerdasan seseorang, tetapi banyak hal dalam kecerdasan itu yang tetap tak berpengaruh.
b.    Pengaruh Faktor Lingkungan
Walau ada cirri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, tetapi ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Intelegensi tentunya tidaklah dapat terlepas dari otak. Dengan kata lain perkembangan organik otak akan sangat mempengaruhi tingkat intelegensi seseorang. Di pihak lain, perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Oleh karena itu, ada hubungan antara pemberian makanan bergizi dengan intelegensi seseorang. Pemberian makanan bergizi ini merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang amat penting. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa inteligensi bisa berkurang karena tidak adanya bentuk rangsangan tertentu dalam awal-awal kehidupan individu. Skeels dan Skodak menemukan dalam studi longitudinal mereka bahwa anak-anak yang dididik dalam lingkungan yang kaku, kurang perhatian, dan kurang dorongan lalu dipindahkan ke dalam lingkungan yang hangat, penuh perhatian, rasa percaya, dan dorongan, menunjukkan peningkatan skor yang cukup berarti pada tes kecerdasan.
Selain itu, individu-individu yang hidup bersama dalam keluarga mempunyai korelasi kecerdasan yagn lebih besar dibanding mereka yang dirawat secara terpisah. Zajonc dalam berbagai penelitian menemukan bahwa anak pertama biasanya memiliki taraf kecerdasan yang lebih tinggi dari adik-adiknya. Olehnya ini dijelaskan karena anak pertama untuk jangka waktu yang cukup lama hanya dikelilingi oleh orang-orang dewasa, suatu lingkungan yang memberinya keuntungan intelektual.
Melihat peranan bawaan dan lingkungan seperti di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa intelegensi dipengaruhi oleh:
ü  Kualitas intelegensi orangtua serta kondisi anak pada saat pembentukan dalam kandungan (bawaan).
ü  Gizi selama masa-masa pertumbuhan.
ü  Rangsangan-rangsangan intelektual yang memberinya berbagai sumber daya pengalaman (experiential resources) seperti pendidikan, latihan berbagai keterampilan, dan lain-lain, khususnya pada masa-masa peka.
c.    Kematangan, menyangkut pertumbuhan jiwa dan fisik berkembang telah mencapai puncaknya karena dipengaruhi faktor internal. Dan arus disadari bahwa kematangan berhubungan erat dengan umur.

d.    Pembentukan yaitu perkembangan individu yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja (seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).

e.    Minat, inilah yang merupakan motor penggerak  dari inteligensi kita. Dalam arti manusia terdapat dorongan-dorongan (motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi, menggunakan, menyelidik dunia luar. Dari manipulasi dan eksplorasi yang dilakukan terhadapdunia luar itu, lama kelamaan timbullah minat terhadap sesuatu.

f.     Kebebasan, berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih masalah sesuai dengan kebutuhanya. Dengan adanya kebebasan ini berarti bahwa minat itu tidak selamaya menjadi syarat dalam perbuatan intelegensi.

4.    Stabilitas Intelegensi dan IQ
Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa intelegensi bukanlah IQ. Seperti dijelaskan di depan, intelegensi merupakan suatu konsep umum tentang kemampuan individu, sedangkan IQ hanyalah hasil dari suatu tes intelegensi tertentu (yang notabene, hanya mengukur sebagian kecil dari intelegensi).
Bila kita membahas stabilitas intelegensi, maka kita merujuk pada konsep yang umum tadi. Di depan sudah dijelaskan bahwa intelegensi sangat dipengaruhi oleh perkembangan organic otak seseorang. Oleh karena itu, sesuai dengan tahap-tahap perkembangan otak, maka pada masa-masa pertumbuhan (± sampai usia 20 th) akan terjadi peningkatan intelegensi. Setelah itu ada suatu masa-masa stabil, kemudian, sejalan dengan kemunduran organis otak, akan terdapat kecenderungan menurun.
Berbeda dengan intelegensi, stabilitas IQ tidak diukur semata-mata berdasarkan perubahan-perubahan fisik (umur yang sebenarnya), tetapi sudah mengacu pada norma kelompok. Pendekatan seperi ini akan menghasilkan skor IQ yang relative stabil karena kelompok mengalami masa-masa pertumbuhan dan penurunan organis dalam periode yang hampir bersamaan.
5.    Pengukuran Intelegensi
Ada bermacam-macam tes untuk mengukur intelegensi, diantaranya yaitu:
1. Tes Binet Simon yang diperbaiki Bobertag. Tes ini dipergunakan untuk menyelidiki intelegensi anak antara umur 3 s/d 15 tahun.
a.    Untuk anak umur 3 tahun, pertanyaan-pertanyaan tidak bersangkutan dengan ilmu atau pelajaran sekolah. Pertanyaan-pertanyaan itu misalnya:
§  menyebut nama-nama keluarganya,
§  menyebut nama-nama barang, dalam gambar,
§  menyebutkan kembali bilangan dari 2 angka dan sebagainya.
b.    Untuk anak yang sudah berumur 5 tahun ke atas, sudah diberikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan pelajarannya.
Dengan tes macam b, ini diketahui umur kecerdasaan seorang anak.
Misalnya, yang di tes anak umur 7 tahun; kepada anak ini mula-mula diberikan pertanyaan-pertanyaan untuk anak yang berumur 7 tahun. Kalau tidak semuanya benar, maka kepadanya diberikan pertanyaan-pertanyaan yang untuk anak yang baru berumur 6 tahun. Demikan seterusnya sampai semua pertanyaan dapat dijawab oleh anak yang berumur 7 tahun itu. Sesudah sesuatu daftar pertanyaan dapat dijawab olehnya dan benar semua, berturut-turut diberikan pertanyaan untuk anak yang berumur selanjutnya, dan terus demikian sehingga sampai kepada daftar pertanyaan yang olehnya satupun tidak ada yang benar. Dari hasilnya itu dapatlah kita menentukan umur kecerdasan anak itu.
2. Brightness test. Tes ini buatan Masselon. Yang disebut juga three words test. Yaitu kepada anak yang ditest, diberikan 3 kata, yang kemudian anak itu disuruhnya membuat kalimat-kalimat logis sebanyak-banyaknya dengan 3 kata tersebut.
3. Stenquist test. Anak disuruh mengamati sesuatu benda sebaik-baiknya. Sesudah itu, benda itu dirusak. Anak itu harus menyusun kembali, sehingga sisa-sisa benda itu berbentuk benda seperti semula.
4. Medaillon test. Anak disuruh menyelesaikan gambar yang baru sebagian atau belum selesai.
5. Educational (schollastik) mental test. Yaitu test yang biasanya diberikan di sekolah-sekolah. Misalnya: ulangan, dikte, ujian, dan sebagainya.
6.   Perkembangan Inteligensi pada Anak
Perkembangan intelegensi anak menurut Piaget mengandung tiga aspek yaitu structure, content, dan function. Jadi, intelegensi anak yang sedang mengalami perkembangan, struktur (structure) dan content intelegensinya berubah atau berkembang. Di mana fungsi dan adaptasi akan tersusun sedemikian rupa, sehingga melahirkan rangkaian perkembangan, dan masing-masing mempunyai struktur psikologis khusus yang menentukan kecakapan pikiran anak. Adapun tahap-tahap perkembangan menurut Piaget ialah kematangan, pengalaman fisik atau lingkungan, transmisi sosial, dan equilibrium atau self regulation. Selanjutnya Piaget membagi tingkat perkembangan sebagai tahap: sensori motor, berpikir pra operasional, berpikir operasional konkret, dan berpikir operasional formal.
1.  Tahap sensori-motor (0-2 tahun)
Pada tahap ini, bayi mempergunakan sistem penginderaan dan aktivitas-aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya mengenal objek-objek. Meskipun ketika dilahirkan seorang bayi masih sangat tergantung dan tidak berdaya, tetapi sebagian alat-alat inderanya sudah langsung bisa berfungsi. Contoh yang jelas dapat dilihat pada “kemampuan” bayi untuk menggerakkan otot-otot disekitar mulut, gerakan mengenyot bilamana mulut tersentuh pada sesuatu, misalnya putting susu ibunya. Bayi bukan saja secara pasif menerima rangsang-rangsangan terhadap alat-alat inderanya, melainkan juga bisa memberikan jawaban terhadap rangsang yakni refleks-refleks. Jelas bahwa refleks yang diperlihatkan bayi bukan sesuatu kemampuan yang timbul dari hasil belajar dalam hubungan dengan lingkungan atau rangsang yang timbul dari lingkungan, melainkan suatu kemampuan yang sudah ada ketika bayi dilahirkan. Dalam perkembangan lebih lanjut, sebagaimana dikemukakan oleh I.P. Pavlov yang menjadi pendahulu refleksologi, satu refleks bisa berpindah dan dikembangkan dengan reflek-reflek lain melalui kondisi-kondisi yang dibuat dari luar (lingkungan) sebagai inti dasar rangkaian gerak atau perbuatan yang sederhana, terutama pada gerak motorik.
Masa sensori motor terbagi menjadi 6 sub masa, yaitu:
v  Modifikasi dari refleks-refleks (0-1 bulan): Pada masa ini refleks menjadi lebih efisien dan terarah.
v  Reaksi pengulangan pertama (1-4 bulan): Yaitu pengulangan gerak-gerik yang menarik pada tubuhnya.
v  Reaksi pengulangan kedua (4-10 bulan): Yaitu pengulangan keadaan atau obyek yang menarik.
v  Koordinasi reaksi-reaksi sekunder (10-12 bulan): Yaitu menggabungkan beberapa skema untuk memperoleh sesuatu.
v  Reaksi pengulangan ketiga (12-18 bulan): Yaitu bermacam-macam pengulangan untuk memperoleh hal-hal yang baru.
v  Permulaan berpikir (18-24 bulan): Yaitu berpikir dahulu sebelum bertindak.
2.  Tahap berpikir praoperasional (2-7 tahun)
Perkembangan yang jelas terlihat pada tahap ini ialah kemampuan mempergunakan simbol. Fungsi simbolik, yakni kemampuan untuk mewakilkan sesuatu yang tidak ada, tidak terlihat dengan sesuatu yang lain atau sebaliknya sesuatu hal mewakili sesuatu yang tidak ada. Fungsi simbolik ini bisa nyata atau abstrak. Misalnya pisau yang terbuat dari plastik adalah sesuatu yang nyata, mewakili pisau yang sesungguhnya. Dengan berkembangnya kemampuan mensimbolisasikan ini, anak memperluas ruang lingkup aktivitasnya yang menyangkut hal-hal yang sudah lewat, atau hal-hal yang akan datang, di samping tentu saja hal-hal yang sekarang. Pada akhir masa sensori motor, anak sudah mulai mempergunakan fungsi simbolik, antara lain terlihat dengan kemampuannya untuk melakukan hal-hal yang sudah lewat, sebagai hasil mengamati sesuatu.
Pada masa praoperasional ini, anak bisa menemukan obyek-obyek yang tertutup atau tersembunyi. Untuk bisa melakukan ini, anak harus bisa melakukan simbolisasi terhadap obyek yang tidak ada atau tidak diketahuinya ketika terjadi pemindahan obyek. Anak juga bisa melakukan sesuatu sebagai hasil meniru atau mengamati suatu model tingkah laku. Perkembangan kemampuan mensimbolisasikan sesuatu ini terlihat pula pada permainan yang dilakukan anak-anak, misalnya kursi yang dijadikan kereta api, pensil yang dianggap pistol, dan lain-lain.
3.  Tahap berpikir operasional konkret (7-11 tahun)
Pada masa ini anak-anak sudah mulai bisa melakukan bermacam-macam tugas. Menurut Piaget, anak-anak pada masa operasional konkret ini bisa melakukan tugas-tugas konservasi dengan baik, karena anak-anak pada masa ini telah mengembangkan tiga macam proses yang disebut dengan operasi-operasi, yaitu:
a.   Negasi
Pada masa praoperasional anak hanya melihat atau memperhatikan keadaan permulaan dan keadaan akhir pada deretan benda yaitu pada mulanya keadaannya sama dan pada akhirnya keadaanya menjadi tidak sama. pada masa operasional konkret anak telah mengerti proses apa yang terjadi diantara kegiatan itu dan memahami hubungan-hubungan antara keduanya.
b.   Hubungan timbal balik (resiprokasi)
Ketika anak melihat bagaimana deretan dari benda-benda itu diubah, anak mengetahui bahwa deretan benda-benda bertambah panjang tetapi tidak rapat lagi dibandingkan dengan deretan yang lain. Karena anak mengetahui hubungan timbal balik antara panjang dan kurang rapat atau sebaliknya, maka anak tahu pula bahwa jumlah benda-benda yang ada pada kedua deretan itu sama.
c.   Identitas
Anak pada masa operasional konkret ini sudah bisa mengenal satu persatu benda-benda yang ada pada deretan-deretan itu. Anak bisa menghitung, sehingga meskipun benda-benda dipindahkan, anak mengetahui bahwa jumlah tetap sama.
Hal lain yang masih membatasi kemampuan berpikir konkrit ialah apa yang oleh D. Elkind (1967) disebut egosentrisme. Egosintrisme dalam arti kurang mempunyai si anak membedakan antara perbuatan-perbuatan serta obyek-obyek yang secara langsung dialami dengan perbuatan-perbuatan atau obyek-obyek yang hanya ada dalam pikiran anak.
4.  Tahap berpikir operasional formal (11-15 tahun)
Pada tahap ini, seorang anak memperkembangkan kemampuan kognitif untuk berpikir abstrak dan hipotesis. Pada masa ini anak bisa memikirkan hal-hal apa yang akan atau mungkin terjadi, sesuatu yang abstrak dan menduga apa yang akan terjadi. Perkembangan lain pada masa anak atau bisa disebut masa remaja ini ialah kemampuan untuk berpikir sistematik, bisa memikirkan semua kemungkinan secara sistematik untuk memecahkan suatu persoalan. Pada masa ini remaja juga sudah bisa memahami adanya bermacam-macam aspek pada suatu persoalan yang dapat diselesaikan seketika, sekaligus. Tidak lagi satu persatu seperti yang biasa dilakukan anak-anak pada masa operasional konkrit.



















BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Perkataan intelegensi dari kata latin “intelligere” yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to relate, to bind together). Istilah intelegensi kadang-kadang atau justru sering memberikan pengertian yang salah, yang memandang intelegensi sebagai kemampuan yang mengandung kemampuan tunggal, padahal menurut para ahli intelegensi mengandung bermacam-macam kemampuan. Namun demikian pengertian intelegensi itu sendiri memberikan berbagai macam arti bagi para ahli.

B.   Saran
Bagi pembaca diharapkan memberikan saran dan kritikan yang membangun untuk kesempurnaan studi kasus yang saya buat serta untuk perbaikan kedepannya.










DAFTAR PUSTAKA

Suryabrata Sumadi, Psikologi Pendidikan, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta: 2004 cetakan ke 12
Walgito Bimo, Pengantar Psikologi Umum, Andi Offset, Yogyakarta: 2010
Suryabrata Sumadi, Psikologi Kepribadian, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta: 1966


STUDI KASUS
Perkembangan Inteligensia Pada Kognitif Anak
Tugas Mandiri Diajukan Untuk Memenuhi
Sebagian Tugas Matakuliah Psikologi Belajar





Disusun Oleh :
Nama                          : Rita Susanti
NIMKO                        : 1209.12.06641
Program                      : Strata Satu (S-1)
Program Studi             : PAI
Semester / Lokal         : II (dua) / C
Dosen Pengampu       : Hermanto, S. Psi


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AULIAURRASYIDIN
TEMBILAHAN

2013
MOTTO

kaligrafi-man-jadda-wa-jada.jpg
Barang siapa bersungguh-sungguh
Pasti ada hasil.









i
 
 


PERSEMBAHAN


Studi kasus ini saya persembahkan untuk memenuhi tugas matakuliah Psikologi Belajar.
Juga untuk kedua orang tua yang sudah mendukung dalam pembuatan karya tulis ini.
Ibu yang selalu membimbing saya dalam pembuatan studi kasus ini dan ayah yang memberi material sehingga studi kasus ini dapat saya selesaikan.
Tidak lupa studi kasus ini saya persembahkan kepada orangtua responden yang bersedia dimintai keterangan.
Kemudian studi kasus ini saya persembahkan untuk masyarakat agar dapat memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.
Dan yang terakhir untuk semua teman-teman PAI II C tercinta J








ii
 
 
KATA PENGANTAR
http://fitrosyafii.files.wordpress.com/2010/06/bismillah.jpg
Segala puji hanya milik Allah swt. Dengan pertolongan dan hidayah-Nya lah, studi kasus ini dapat diselesaikan. Studi kasus ini saya buat dengan tujuan agar dapat dimanfaatkan dalam proses belajar. Dan saya berharap agar para pembaca dapat memberikan kritik dan masukannya yang positif serta saran untuk kesempurnaan studi kasus ini.
Merupakan suatu harapan pula, semoga studi kasus ini tercatat sebagai amal saleh dan menjadi motivator bagi penulis untuk membuat karya lain yang lebih baik dan bermanfaat. Amin.

                                                                                


                                                                                          Tembilahan,     Maret 2013
                                                                                                            Penulis
                                                                                                        Rita Susanti








iii
 
 

DAFTAR ISI


Motto .......................................................................................................................................      i
Persembahan  .........................................................................................................................      ii
Kata Pengantar .......................................................................................................................      iii
Daftar Isi ..................................................................................................................................      v
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................      1
  1. Latar Belakang.............................................................................................................      1
  2. Tujuan dan Manfaat.....................................................................................................      1

BAB II IDENTITAS RESPONDEN........................................................................................      2
  1. Data Responden..........................................................................................................      2
  2. Data Orangtua Responden..........................................................................................      2
  3. Observasi yang dilakukan............................................................................................      2

BAB III  PERMASALAHAN YANG DIHADAPI
  1. Keadaan Anak
1.    Fisik Anak...............................................................................................................      4
2.    Mental Anak...........................................................................................................      4
3.    Kelemahan Anak....................................................................................................      4
4.    Kelebihan Anak......................................................................................................      4
B.    Permasalahan Anak.....................................................................................................      4
1.    Terhadap diri sendiri...............................................................................................      4
2.    Orangtua................................................................................................................      5
3.    Lingkungan ............................................................................................................      5
4.    Sekolah..................................................................................................................      5

BAB IV DASAR TEORITIS ...................................................................................................      6

BAB V PENUTUP
  1. Kesimpulan...................................................................................................................      21
  2. Saran............................................................................................................................      21

Daftar Pustaka

Lampiran-lampiran
-          Keterangan Ijin Penelitian
-          Keterangan Telah Melakukan Penelitian
-          Identitas Penulis (mahasiswa ybs)




iv